Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Tampilkan postingan dengan label Piala Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Amerika. Tampilkan semua postingan

Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis

Di kala musim baru kompetisi liga utama Eropa dan Liga Champion belum dimulai, juga Piala Libertadores barusan usai, Copa America 2011 pasti jadi satu-satunya ajang kelas atas yang layak dinikmati penggila bola. Sepekan ini mata dunia telah mengarah ke Argentina, yang menggelar kejuaraan kuno Campeonato Sudamericano de Selecciones.

Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Copa America masih mencari model bisnis yang tepat.
Dalam konteks bisnis, Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champion adalah tiga besar marketshare pagelaran sepak bola dunia. Dalam deret ukur, posisi Copa America rasanya jelas. Ia ada di urutan empat, masih mentereng dibanding Piala Afrika, Piala Emas, Piala Libertadores, bahkan Piala Asia. Tapi lazimnya sebagai salah satu turnamen regional utama, benturan antara gengsi, tendensi, dan bisnis sepertinya sulit teratasi di tanah Latin.

Dalam hal marketing dan promo misalnya, maaf, jauhlah dibanding perhelatan EURO di Eropa. Padahal dari sisi kualitas turnamen, bisa jadi Copa America ada di urutan satu. Lucunya lagi, di antara tujuh kejuaraan tradisional utama tadi, Piala Amerika adalah kejuaraan sepak bola internasional yang tertua sebab digelindingkan pertama kali pada 1916. Tahun ini Copa America memasuki edisi yang ke-44.

Kenapa Copa America sulit berkembang bisnisnya? Bukankah FIFA sudah habis-habisan membantunya? Benar, dalam dua pagelaran terakhir, 2007 dan 2011, keputusan FIFA memperbanyak laga persahabatan antarnegara, membuat Copa America lebih bermutu karena setiap peserta punya persiapan matang. Itu teorinya. Prakteknya tak semudah itu. Jadi apa ujung pangkalnya? Sepele, ini cuma soal genap atau ganjil! Ia ada di tahun ganjil.

Barangkali karena merasa terdepan peradabannya dengan fakta menguasai bisnis dunia, orang-orang Eropa dikenal lihai dalam lobi dan negosiasi. Pada akhirnya, hasilnya seperti ini. Piala Dunia dan Piala Eropa ada di tahun genap. Piala Amerika dan Piala Emas pada tahun ganjil.

Sementara itu di Piala Afrika dan Piala Asia, meski masuk tahun genap, tapi sebenarnya ada di tahun ganjil. Tepatnya pada awal tahun genap, antara Januari-Februari. Begitulah seterusnya pokok masalah bagi bangsa-bangsa Latin, Afrika, dan Asia yang tidak pernah bisa mengalahkan pamor sepak bola bangsa Eropa.

Berangkat dari sini esensi dan tendensi Copa America membias secara evolutif. Alih-alih mau mengembalikan supremasi Futbol Latino di pentas dunia juga meraih keuntungan besar sisi bisnisnya, Conmebol - federasi sepak bola Amerika Selatan - justru melupakan tradisi asal, kadang melepaskan identitas asli.

Sungguh ironis bila hampir semua peserta, plus Brasil dan Argentina, menjadikan Copa America medan preparasi sempurna untuk tujuan utama: kualifikasi World Cup! Dengan jatah 4+1, kini 9 negara Conmebol minus Brasil, tahun ini akan memainkan lakon yang paling menjanjikan sepanjang sejarah.

Jika bukan dari Copa America 2011, kapan tim nasional Brasil bisa bertemu lawan tangguh secara intensif dan kompetitif? Dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, Selecao tidak ikut kualifikasinya. Ini yang bikin Copa America di bulan Juli ini dianggap sangat serius oleh pelatih nasional Mano Menezes.

Beban lebih berat ikut dirasakan Argentina. Selain temanya sama dengan Brasil, namun puasa gelar internasional sejak 1993, bikin pelatih Sergio Batista kadang suka merenung. Secara spesifik, Brasil dan Argentina punya problem internal yang paling pelik, ironisnya, justru karena kebanjiran pemain bagus.

Tanpa metode dan sistem permainan yang baku, rasanya keberhasilan tetap sulit dicapai. Brasil yang ingin mematangkan pola 4-2-3-1 atau Argentina yang 4-3-3 harus menentukan siapa starter di tiap posisi. Saat ditahan 0-0 oleh Kosta Rika bulan lalu, La Albiceleste tampil tanpa Lionel Messi. Batista mencoba Jose Sosa dan Nicolas Gaitan sebagai penyerang sayap. Hasilnya pun berantakan. Brasil pun sekarang sudah dirundung polemik. Mulai dari rakyat, data statistik, dan fakta lainnya; diyakini tim Samba harus menyediakan tempat buat pemain old crack seperti Lucio di belakang dan Elano di tengah.

Persoalan kedua Copa America adalah pandangan sinis publik dan pers Eropa yang menganggap kejuaraan yang dilahirkan untuk memperingati Revolusi Mei di Argentina ini sebagai lelucon. Copa America bukanlah turnamen yang murni mewakili aspirasi sepak bola negara-negara Amerika Selatan. Ketika urusan belum kelar, pada 1993 Conmebol malah mengundang dua anggota zona Concacaf - Meksiko dan AS - sebagai pelanggan baru tanpa menyadari dampaknya.

Ini lucu mengingat tiga negeri Amerika Latin - Guyana, Suriname dan Guiana Prancis - yang jelas-jelas tetangganya Venezuela dan Brasil, malah 'dibuang' ke zona Concacaf! Ketianya dilempar paksa ke bumi Amerika Tengah. Peta bumi coba diubah-ubah, namun realitanya tidak bisa kecuali memaksakan fantasi. Begitulah, barangkali, sifat mendasar manusia yang sering meminta 'pemakluman'. Namun bagi yang sedikit menghormati etika dan moralitas, ini merupakan sebuah paradoks.

Sinisme Eropa
Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Jepang terpaksa diundang demi menaikkan nilai jual turnamen.
Perjudian Conmebol nyaris celaka setelah dalam debutnya itu, Meksiko nyaris jadi juara sebelum dihentikan Argentina 2-1 di final. Meksiko dan AS hadir lagi di 1995. Lantas kekonyolan Conmebol makin lama makin menjadi-jadi. Kosta Rika, Honduras, bahkan Jepang pernah hadir atau diundang. Bayangkan, Jepang! Kenapa tidak China saja sekalian? Pasti Copa America dapat nilai audiensi mengingat populasi negeri itu.

Banyak pihak yang nyengir kuda melihat terobosan Conmebol yang mengabaikan tradisi dan identitas kejuaraan. Meksiko paling pintar memanfaatkan momentum saat diundang. Negeri Sombrero ini segera mengirimkan barisan talentanya, menyisipkan para pemain muda (U-23) untuk pematangan sesungguhnya menghadapi masa depan. Namun lucunya, Kanada di 2001 dan Jepang di 2011 ditolak ketika akan mengirim pemain mudanya.

Lantaran tradisinya yang sudah cacat, dan gengsinya tengah dipertaruhkan, ada rumor yang mengatakan sebenarnya Polandia - salah satu tuan rumah EURO 2012 - ingin sekali diundang tahun ini! Bos PZPN (PSSI-nya Polandia), Grzegorz Lato, sangat berkepentingan dengan Copa America di Argentina. Lato adalah legenda hidup Polska yang tiba-tiba merasa akrab dengan Argentina sewaktu bermain gemilang di Piala Dunia 1978.

Selain itu dikabarkan pelatih nasional Franciszek Smuda dirundung rasa pesimis karena ujicoba timnya untuk persiapan di putaran final nanti amat minim. Boleh jadi Polandia masih punya gengsi ketimbang Conmebol. Mereka jelas risih meminta-minta diundang. Namun ini bukan tanpa alasan.

Jepang, yang ada di zona Asia (AFC), selalu diharapkan hadir karena Conmebol melihat sisi sponsor dan nilai marketing yang dibawa Japon. Alasan lain pantasnya Polandia hadir karena sebelum mengundang Jepang, Conmebol resmi mengundang juara dunia Spanyol! Namun RFEF (PSSI-nya Spanyol) tidak berani mengusik masa liburan para pemain nasionalnya.

Patut dipertanyakan, kenapa orang-orang Latin tak belajar dari pengalaman masa lalu? Mengapa spekulasi ini dibiarkan FIFA? Hal lain juga sering menimbulkan sinisme pada Copa America adalah soal ketidak-siapan infrastruktur, bencana alam, kejadian heboh yang dilakukan pemain, sampai wasit yang kerap kontroversial. Anda seharusnya masih ingat yang ditorehkan Martin 'El Loco' Palermo pada Piala Amerika 1999 di Paraguay.

Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Kisah unik Martin Palermo pada 1999 menjatuhkan nilai Copa America.
El Loco mempermalukan dirinya sendiri lantaran gagal mengeksekusi penalti sampai tiga kali ke gawang Kolombia! Saat itu Palermo adalah striker kelas atas Argentina. Ada contoh lain yang lebih kontroversial. Di kala reputasinya sedang membubung tinggi, Luiz Ronaldo bikin ulah yang tidak terlupakan. Kesal karena diganti saat lawan Meksiko di semifinal, dia langsung ngeloyor ke luar kamar ganti, ambil baju, dan ngabur ke hotel.

Usai lepas kostum, Ronaldo ngacir keluar stadion untuk berkencan dengan wanita serta berbelanja di Ciudad del Este. Itu dilakukan saat timnya masih main! Media massa di Eropa bikin kisah Cash for Chaos untuk menyorot kelakuan profesional negatif bintang-bintang Latin yang bermain di klub Eropa saat berada di rumahnya sendiri. Dikatakan, mereka berbuat begitu karena di Eropa tidak punya kesempatan sama sekali dan dibayangi disiplin yang ketat.

Ulah heboh juga pernah ditunjukkan kiper Paraguay, Jose Luis Chilavert, yang mogok main justru karena negaranya menggelar Copa America! Jauh-jauh hari si eksentrik protes bahwa masih banyak persoalan ekonomi yang dihadapi Paraguay ketimbang buang-buang uang dengan menjadi tuan rumah Copa America 1999. Belum lagi drama soal kepemimpinan kontroversial wasit yang memalukan seperti di Copa America 2007.

Namun dari semua kelemahan dan keanehan tapi nyata Copa America yang disorot media massa Eropa, tak lain soal pengaturan laga dan jumlah peserta. Sejujurnya, 12 negara partisipan tidak ideal buat sebuah kejuaraan yang memakai sistem round-robin. Mereka selalu butuh dua tim terbaik yang diambil dari tiga runner-up. Mulai tahun ini laga tidak dilanjutkan dengan adu penalti langsung jika di 90 menit pertama berakhir imbang.

Copa America suka terjebak dalam geliat bisnisnya sendiri. Demi obsesi menyamai pamor Piala Eropa, Copa America justru semakin mengorbankan gengsi dan tradisinya. Padahal dengan mengajak Amerika Serikat saja sudah cukup. Banyak sponsor dan stasiun TV yang senang dengan Copa America mengingat jumlah komunitas Latino di AS.

Namun agaknya Conmebol ingin mencari untung yang lebih besar. Padahal sudah mentok sama sekali, sudah terukur. Satu contoh kecil saja, jika FC Barcelona tidak menginzinkan Messi tampil dengan aneka alasan, maka AFA (Federasi Sepak Bola Argentina) tidak bisa apa-apa sebab pada faktanya Barcelona yang mengelola dan menjamin hidup Messi, bukan tim nasional Argentina, AFA, atau negaranya.

Bussines-Driven
Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
KIA butuh market baru di Amerika Selatan.
Kepentingan bisnis selalu bergerak ke mana-mana mencari peluang. Soal perlengkapan Lionel Messi misalnya. Sebagai sponsor resmi tim Tango, Adidas memainkan peranan penting. Seperti diketahui, ras Hispanik dan AS adalah market utama Barcelona. Inilah yang akan diatur bagaimana Barcelona dan Adidas bisa cincay. Apalagi kejuaraan bakal digelar di kampungnya Messi.

Itu kenapa Univision, jaringan TV dari AS yang memegang hak siar Copa America 2011, berharap banyak. Revenue utama TV yang berkantor pusat di New York ini adalah telenovela dan sepak bola (La Liga) yang berbahasa Spanyol, namun khusus Copa America mereka memakai English language.

Biaya produksi dari studio di Doral, Florida dan unit di lapangan telah ditutup oleh sponsor non-Eropa seperti: LG, MasterCard, Santander, KIA, Telcel, Claro, Canon, Budweiser, Coca-Cola, Petrobras, Seara, sampai UNICEF. Semuanya berharap banyak pada kesuksesan turnamen kuadranial ini. Kue keuntungan pun sudah dikapling-kapling.

Uniknya, Argentina tidak bisa berbuat banyak sebab event organizer Copa America 2011 adalah Traffic Sports, sebuah perusahaan Brasil yang bermarkas di Miami, Florida. Traffic Sports dan Univision inilah yang mengatur liveshow ke 196 negara sejagat termasuk Indonesia.

"Walau digelar di Argentina, tapi karena Univision adalah market leader di AS yang menguasai ajang top olah raga, maka kami bisa mendapat fragmentasinya sebagai magnet kuat menjadi tontonan utama," aku Aaron Davidson, wapres penjualan dan pemasaran Traffic Sports.
Copa America: Menjual Tradisi Membeli Bisnis
Tiga sponsor utama Copa America 2011.
Mereka memilah mana sponsor berkelas platinum, gold, dan silver. Misal untuk bir yang masuk kategori silver. Saat Meksiko main, maka iklan salah satu produk Budweiser yaitu InBev, yang akan terlihat. Akan tetapi ketika tim Samba tampil, maka perusahaan bir Brasil, Brahma, yang mendominasi iklan baik di tayangan atau di stadion. Ketika Argentina yang main, maka bir lokal Quilmes-lah yang tayang.

Berbekal data ajang sebelumnya pada 2007, maka tingkat audiens Copa America yang dibidik Univision cukup dengan angka 2,6 juta penonton tiap pertandingan. Artinya ada angka total 67,6 juta penonton. Sebuah angka yang 'sangat kecil' dibandingkan Piala Eropa.

Tipe sponsor di Copa America juga minim jenisnya. Bank, kartu kredit, minuman, bir, mobil, elektronik, tambang, dan telekomunikasi. Namun ketika dikombinasi dengan demografi penonton kejuaraan sebelumnya milik Scarborough Research, ternyata potensinya cukup menjanjikan sebab 70 persen penonton Copa America adalah kaum Adam.

Komposisi usia penonton Copa America di AS juga menarik datanya. Di usia 18-22 sekitar 6%. 25-34 (22%), 35-44 (24%), 45-54 (18%), 55-64 (11%), dan di atas 65 tahun (9%). Sedangkan dari segi penghasilan audiens, angkanya makin prospektif, 30% ada di pendapatan di atas $100.000 setahun. Berikutnya 75.000-100.000 (17%), persis sama rentang 35.000-50.000. Pendapatan antara 50.000-75.000 (15%), 25.000-35.000 (11%), serta di bawah 25.000 cuma 10%.

Jika data ini dipaparkan ke audiens di Eropa, bisa jadi dikategorikan suram. Namun itulah, standar pasar bola di Latin yang punya ekosistem tersendiri. Urusan keruk-mengeruk duit, sepak bola selalu ada celah dan celah. Untuk yang bernilai mega, Traffic Sports telah mematok bayar di muka, enam bulan sebelum Copa America bergulir. Kategori ini juga diharuskan menggelar kegiatan ekstra seperti nonton bareng atau festival.

Sementara itu untuk sponsor bernilai ritel masih ditunggu hingga jelang kick-off. Bussines-driven yang digenjot kuat-kuat Traffic Sports bukan tanpa hujatan di kampung sendiri. Manuel Figueroa, wartawan harian El Espectador di Bogota, pernah menulis bahwa untuk berilusi saja, Conmebol telah gagal mengangkat sepak bola Latino! Kolusi dan konspirasi para birokratnya sulit diusik.

Wilayah ini hanya diselamatkan oleh bakat dan mutu permainannya. Amerika Selatan adalah lahan Conmebol, di mana sebagian pejabatnya juga adalah tokoh teras FIFA. Jika di atas permainan, Argentina dan Brasil adalah dua besar di tanah Latin, maka begitu juga klik di Conmebol dan bisnisnya.

Terlepas itu semua, ini yang menjadikan Copa America tetap spesial, seperti gaya permainannya mereka. Bagi sebagian wartawan, dibanding turnamen ala Eropa seperti Liga Champion atau Piala Eropa yang miskin drama, Copa America biasanya penuh dengan cerita unik di luar lapangan. Cocoklah dengan kesukaan mereka pada telenovela.

(foto: exspanish/dailymail/racing5/football-marketing/kolkatafootball)

Share:

Copa America 1999: Terbesar Di Akhir Abad

Pantaskah Copa America atau Piala Amerika di Paraguay, yang dimulai Rabu (29/6) atau Kamis (30/6) malam WIB, disebut sebagai kejuaraan sepak bola paling bergengsi terakhir di akhir abad ini? Jawabannya hampir pasti.

Copa America 1999: Terbesar Di Akhir Abad
Kalau mau dicari lawannya, barangkali cuma satu: FIFA Confederations Cup atau Piala Konfederasi 1999 di Meksiko. 24 Juli - 4 Agustus, yang hanya berselang 5 hari setelah berakhirnya Copa America 1999. Selebihnya, ya tidak ada. Tapi kalau melihat uzurnya umur Copa America yang telah mencapai 89 tahun, lalu bandingkan dengan Piala Konfederasi yang masih 'balita' karena baru dimulai 1995, bagaimana pendapat Anda?

Belum lagi vonis meyakinkan seperti ini: Piala Amerika adalah kejuaraan antarbangsa, internasional, yang tertua lantaran sudah digelar sejak 1910! Lalu disebut terbesar melihat total gol, kartu kuning, kartu merah, dan total penonton, atau yang tergampang saja, juaranya. Bayangkan, Argentina dan Uruguay telah berbagi 14 gelar.

Jargon terbesar juga bisa datang dari total gol sepanjang 1910-1997 atau 38 kali kejuaraan (edisi pertama pada 1910 tidak diakui), dengan 1.978 gol. Bandingkan dengan Piala Dunia (1930-1998) yang 1.755 gol tapi dengan peserta segudang. Nantikan gol-gol selanjutnya yang akan terjadi di Paraguay 1999, kejuaraan yang akan diikuti 12 negara termasuk 'wakil Asia' Jepang, yang datang sebagai undangan khusus.

2.000 Gol

Bukannya bermaksud mendahului takdir Illahi, namun hampir pasti gol bersejarah, gol ke-2.000, tampaknya bakal terjadi di kancah Paraguay 1999 ini. Siapa pembuatnya, inilah yang bakal seru dinanti. Begitu Ze Roberto membuat gol ketiga di menit 90, kala Brasil bertemu Bolivia di final Piala Amerika ke-38, pada 29 Juni 1997, saat itu pula lahir gol ke-1.978.

Berarti tinggal 22 gol saja menuju gol ke-2.000. Melihat timpangnya kekuatan dari 3 grup yang ada, dan kalau diasumsikan setiap laga rata-rata lahir 3 gol saja, maka berarti di laga keempat-lah gol ke-2.000 akan lahir. Pemain dan negara mana yang berpeluang membuatnya? Sungguh kebetulan, di partai keempat ini Brasil akan bertanding melawan tim lemah Venezuela di Ciudad del Este, 30 Juni atau 1 Juli waktu Indonesia. Sangatlah mungkin jika memang Brasil yang melakukannya.

Yang jadi pertanyaan, siapa pemain Brasil yang menciptakan gol bersejarah tersebut? Meski di atas kertas pemain Venezuela bisa juga membuatnya, namun para delanteros tim Samba agaknya lebih punya kans besar. Marcio Amoroso, Rivaldo, atau Romario?

Namun andai ada kejutan di mana peta kekuatan agak seimbang, katakanlah rata-rata gol cuma 2 per partai, maka gol ke-2.000 kemungkinan besar muncul saat laga Argentina vs Ekuador di Luque, 1 Juli atau 2 Juli waktu Indonesia. Di sini goleador Argentina macam Martin Palermo, Ariel Ortega, atau Claudio Lopez berpeluang menghentak sejarah.

Andai kedua partai di atas masih meleset, maka duel kelima antara Uruguay vs Kolombia di Luque justru yang akan menghasilkan rekor baru pencetak gol. Nama Gustavo Poyet atau Alvaro Recoba dari Uruguay atau Hamilton Ricard dan Faustino Asprilla paling punya kesempatan untuk itu.

Argentina vs Brasil?
Copa America 1999: Terbesar Di Akhir Abad
Sebenarnya tak terlalu sulit menentukan siapa yang bakal menjadi juara Piala Amerika 1999. Menyebut Argentina, Brasil, dan Uruguay saja kemungkinan benarnya sangat besar. Kalau yang ada ditambahkan, masukkanlah si tuan rumah Paraguay.

Namun bursa taruhan SSP International punya versi lain meskipun tidak begitu jauh dari yang disebutkan tadi. Bandar taruhan yang berbasis di Inggris itu memasang secara berturut-turut Brasil, Argentina, Paraguay, dan Chile yang punya peluang besar sebagai finalis, lebih banyak karena berisikan para bintangnya dan tradisi juara.

Dari edaran SSP itu, berarti Brasil dan Argentina kembali dijagokan bertemu di final. Ke mana Uruguay, negara yang juga langganan juara? Faktor pemain yang rata-rata masih 'hijau' alias minim pengalaman meski diperkuat Gustavo Poyet atau Alvaro Recoba, dinilai agak sulit bersaing. Jangankan dengan Argentina atau Brasil, di hadapan Chile saja yang punya duet maut Ivan Zamorano-Marcelo Salas, sudah berat. Apalagi masuknya pelatih berkarisma Daniel Passarella di tim Tango dinilai bukan merupakan kekuatan buat Uruguay, justru makin melemahkan posisi mereka.

Sementara itu kelemahan terbesar Paraguay memang mudah ditebak. Tradisi juara. Juga tak diperkuat kapten sekaligus 'roh' permainannya, kiper eksentrik Jose Luis Chilavert. Walau demikian, berkat statusnya sebagai tuan rumah, juara 1963 dan 1979 itu diyakini SSP bisa menembus semifinal dengan cara-cara khusus. Nah, menarik untuk ditunggu.


BURSA JUARA
Brasil 2,00 sampai 1,30
Argentina 2,85 sampai 1,50
Paraguay 5,00 sampai 2,30
Chile 9,00 sampai 3,00
Meksiko 16,00 sampai 6,00
Kolombia 20,00 sampai 7,00
Uruguay 25,00 sampai 8,00
Ekuador 30,00 sampai 10,00
Bolivia 50,00 sampai 16,00
Peru 66,00 sampai 20,00
Jepang 100,00 sampai 30,00
Venezuela 250,00 sampai 80,00

PARADE JUARA
1910 ARGENTINA*
1916 URUGUAY
1917 URUGUAY
1919 BRASIL
1920 URUGUAY
1921 ARGENTINA
1922 BRASIL
1923 URUGUAY
1924 URUGUAY
1925 ARGENTINA
1926 URUGUAY
1927 ARGENTINA
1929 ARGENTINA
1935 URUGUAY
1937 ARGENTINA
1939 PERU
1941 ARGENTINA
1942 URUGUAY
1945 ARGENTINA
1946 ARGENTINA
1947 ARGENTINA
1949 BRASIL
1953 PARAGUAY
1955 ARGENTINA
1956 URUGUAY
1957 ARGENTINA
1959 ARGENTINA
1959 URUGUAY
1963 BOLIVIA
1967 URUGUAY
1975 PERU
1979 PARAGUAY
1983 URUGUAY
1987 URUGUAY
1989 BRASIL
1991 ARGENTINA
1993 ARGENTINA
1995 URUGUAY
1997 BRASIL

DISTRIBUSI TITEL
Juara 1   2 3
Argentina         14 10 4
Uruguay 14 5 8
Brasil 5 11 7
Paraguay         2 5 7
Peru         2 0 6
Bolivia 1 1 0
Chile         0 4 5
Kolombia         0 1 3
Meksiko 0 1 1

TOP SKOR
1916 *ISABELINO GRADIA (Uruguay) 3 Gol
1917  ANGEL ROMANO (Uruguay) 4
1919  ARTHUR FREIDENREICH (Brasil), NECO (Brasil) 4
1920  ANGEL ROMANO, JOSE PEREZ (Uruguay) 3
1921  JULIO LIBONAHI (Argentina) 3
1922  JUAN FRANCIA (Argentina) 4
1923  VALOINO AGUIRRE (Argentina), PEDRO PETRONE (Uruguay) 3
1924  PEDRO PETRONE (Uruguay) 4
1925  MANUEL SEOANE (Argentina) 6
1926  HECTOR SCARONE, HECTOR CASTRO (Uruguay); GUILLERM SUBIABRE (Chile) 6
1927  ALFREDO CARRICABERRY, SEGUNDO LUNA (Argentina); PEDRO PETRONE, ROBERTO FIGUEROA, HECTOR SCARONE (Uruguay) 3
1929  AURELIO GONZALEZ (Paraguay) 5
1935 *HERMINIO MASANTONIO (Argentina) 4
1937  RAUL TORO (Chile) 7
1939  TEODORO FERNANDEZ (Peru) 7
1941 *JUAN MAHVEZZI (Argentina) 5
1942  HERMINIO MASANTONIO, JUAN MORENO (Argentina) 7
1945  NORBERTO MENDEZ (Argentina) 6
1945 *HELENO DE FREITAS (Brasil) 6
1946 *JOSE MEDINA (Uruguay) 7
1947  NICOLAS FALEHO (Uruguay) 7
1949  JAIR (Brasil) 9
1953  FRANCISCO MOLINA (Chile) 7
1955  RODOLFO MICHEL (Argentina) 8
1956 *ENRIQUE HORMAZABAL (Chile) 4
1957  JAVIER AMBROIS (Uruguay), HUMBERTO MASCHIO (Argentina) 9
1959  PELE (Brasil) 8
1959 *JOSE SANFILIPPO (Argentina) 5
1963  CARLOS RAFFO (Ekuador) 6
1967  LUIS ARTIME (Argentina) 5
1975  ERNESTO DIAZ (Kolombia), LEOPOLDO LUQUE (Argentina) 4
1979 *EUGENIC MOREL (Paraguay), JORGE PEREDO (Chile) 4
1983  FRANCO NAVARRO (Peru) 4
1987  ARNOLDO IGUARAN (Kolombia) 4
1989  BEBETO (Brasil) 6
1991  GABRIEL BATISTUTA (Argentina) 6
1993  JOSE DOLGETTA (Venezuela) 4
1995  GABRIEL BATISTUTA (Argentina), LUIS GARCIA (Meksiko) 4
1997  LUIS HERNANDEZ (Meksiko) 6

*dianggap tidak resmi

(foto: noticias.terra.es/goal/football-en.footforever.com)

Share:

Copa America 1995: Argentina Yang Terhebat

Sejak digelar pada 1910, Piala Amerika atau Copa America bisa disebut sebagai ajang pembuktian terhebat Argentina di wilayah yang paling ketat persaingan kekuatannya di dunia. Bayangkan, di zona ini ada tiga negara bertetangga yang pernah menjadi juara dunia. Namun bila dicari siapa jawara paling hebat di daerah tersebut, maka lagi-lagi jawabannya cuma satu: Argentina.

Copa America 1995: Argentina Yang Terhebat
Argentina menjadi juara Copa America 1993 di Ekuador.
Dari 37 kali kejuaraan yang telah digelar termasuk tahun ini, delapan di antaranya adalah tidak resmi, yakni 1910, 1916, 1935, 1941, 1945, 1946, 1956, dan 1959. Disebut tidak resmi karena kejuaraan itu tidak diakui oleh CONMEBOL (Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan) akibat keabsahan jumlah peserta, dan panitia tidak mengorganisasikannya dengan valid.

Oleh sebab itu, jika pesta sepak bola se-Amerika Selatan ini memasukkan tahun-tahun tersebut, maka juara-juaranya sebagai berikut: Argentina 14 kali, disusul Uruguay 13 kali, Brasil hanya 4 kali, lalu Peru dan Paraguay kebagian jatah 2 kali juara, serta sekali diraih oleh Bolivia.

Sejak 1975, label kejuaraan resmi diganti menjadi Copa America dari yang tadinya bernama Campeonato Sudamericano de Fútbol (CSF). Jika ini yang dihitung, tetap saja Argentina jawaranya dengan meraih 11 kali, diikuti Uruguay 9 kali, dan sisanya tidak ada perubahan dengan di atas.

Untuk memperluas gaung dan aspek bisnis, pada 1993 di Ekuador untuk pertama kalinya CONMEBOL mengundang dua negara tamu dari Zona CONCACAF (Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara dan Tengah). Mereka adalah Amerika Serikat (AS) dan Meksiko. Uniknya dan tentu ini hebat, Meksiko langsung masuk final sebelum digebuk Argentina 1-2 di final. Ada pun AS harus tersingkir di penyisihan grup.

Tahun ini merupakan keikutsertaan mereka berdua, yang secara resmi bukan sebagai tim undangan lagi, akan tetapi sebagai peserta resmi. Berikut rekor abadi Copa America dan Campeonato Sudamericano de Fútbol sejak 1910.

Klasemen Abadi


Negara Main   Menang        Seri Kalah Gol         Poin
Argentina         149      97         27 25         371-139 318
Uruguay 151      90         20 42         341-167 290
Brasil 133      70         25 38         305-168 235
Paraguay         130      52         23 55         211-240 179
Chile         138      49         22 67         224-251 169
Peru         107      38         25 44         163-176 139
Kolombia         70      20         17 33         79-139 77
Bolivia 80      13         17 50         74-228 56
Ekuador 89      10         17 62         92-264 47
Venezuela         30      1                 6 23         22-109 9
Meksiko 6      2                 2 2         8-7         8
AS         3      0                 1 2         3-8         1

(foto: Golazo Argentino)

Share:

Copa America 1995: Argentina vs Brasil Di Semifinal?

Uruguay memang licik. Gara-gara undian, yang diyakini diatur mereka, dua tim favorit, Argentina dan Brasil, hampir pasti akan bertemu di semifinal. "Undian ini jelas menguntungkan tuan rumah," umpat pelatih tim Samba, Mario Zagalo. 
Copa America 1995: Argentina vs Brasil Di Semifinal?
Pertemuan terakhir Argentina vs Brasil di Quito, 1993. Samba kalah dramatis.
Brasil, sang juara dunia, pun terhenyak. Obsesi mereka mempertahankan reputasi sebagai kesebelasan terbaik sejagat dengan cara memperpanjang supremasi gelar, kini bakal terancam. Masalahnya untuk menggapai jalan ke final, tim yang akan dihadapi bukan lawan sembarangan, dan mereka adalah musuh bebuyutan: Argentina! "Mereka selalu menyulitkan kami di mana pun," kata pelatih yang menggantikan Carlos Alberto Parreira itu. 

Bertarung di Grup B, lawan terberat Brasil mungkin Kolombia. Walau begitu, menjadi juara grup tampaknya bukan hal yang mustahil buat tim yang terakhir kali menjuarai Piala Amerika pada 1989 ini. Di perempatfinal mereka bakal bertemu AS atau Bolivia yang masih satu kelas di bawahnya. 

Kesempatan ke semifinal terbuka luas. Begitu juga Argentina, yang bersama-sama AS, Bolivia, dan Chile berada di Grup C. Di perempatfinal, Argentina bakal bertemu dengan peringkat ketiga terbaik dari tiga grup, di mana kemungkinan besar diperebutkan antara AS, Chile, Bolivia, atau Peru.

Siapapun lawannya, hampir bisa dipastikan Gabriel Batistuta dkk. akan merebut tiket ke semifinal untuk bertemu Brasil di semifinal. Meski materi mereka terbilang tangguh di antara partisipan lain, namun mendengar nama besar Argentina, para pemain Samba seperti meradang. "Kami akan terus trauma dengan Argentina," ucap Carlos Dunga, kapten Brasil. 

Ia masih belum lupa dengan kejadian buruk di Piala Dunia 1990 di Italia. Lolos dengan hasil 100 persen menang dari penyisihan grup, di babak kedua Dunga dkk waktu itu harus berhadapan dengan Argentina, yang lolos susah payah sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Brasil bermain ciamik, Argentina bertahan total dan pelatih Carlos Bilardo memperagakan negative football. Hingga menit ke-80, para pemain Brasil akhirnya kedodoran stamina setelah habis-habisan menggedor gawang Sergio Goeycochea. Namun pertahanan grendel dari Oscar Ruggeri dkk membuat skor tetap 0-0. 

Celakanya, pelatih Sebastiano Lazaroni lupa memperhitungkan seorang Diego Maradona, yang meski dijaga ketat Dunga dan rekannya di Napoli, Ricardo Alemao, masih tetap punya senjata mematikan berupa umpan matang tak terduga. Benar saja, tak lama kemudian bencana tiba. Sang mahabintang Argentina dan Napoli itu melepaskan umpan yang tidak masuk akal yang diselesaikan dengan baik oleh striker Claudio Caniggia.

Gawang Claudio Taffarel jebol oleh satu-satunya peluang emas yang didapat Argentina! Ratusan juta rakyat Brasil hening, dan ketika wasit Kurt Roethlisberger (Swiss) meniup peluit panjang, tangisan bercucuran melanda negeri itu. Terjadi prahara luar biasa, sampai-sampai Lazaroni harus buron karena dianggap sebagai penjahat nasional.

Belum lama berselang peristiwa ini pun terulang lagi, meski di arena junior. Tepatnya di ajang Piala Dunia U-21 di Qatar, April silam. Meluncur mulus tanpa takluk hingga ke babak final, Brasil lagi-lagi menemui Argentina. Di atas kertas, mereka dijagokan akan menggulung lawannya. Namun faktanya berkebalikan. Juan Pablo Sorin cs malah menaklukkan mereka 2-0. 

"Kali ini kami lebih favorit," kata Zagalo menghibur diri. Mungkinkah Brasil melindas Argentina di Copa America yang bukan menjadi tradisi kejayaannya? Tunggu saja tanggal mainnya.

Rekor Argentina vs Brasil di Copa America

Tanggal Hasil Tempat
10.07.1916 Argentina 1-1 Brasil Buenos Aires
03.10.1917 Argentina 4-2 Brasil Parque Pereira
18.05.1919 Brasil 3-1 Argentina Fluminense
25.09.1920 Brasil 0-2 Argentina Vina Del Mar
02.10.1921 Argentina 1-0 Brasil Buenos Aires
15.10.1922 Brasil 2-0 Argentina Rio De Janeiro
18.11.1923 Argentina 2-1 Brasil Montevideo
13.12.1925 Argentina 4-1 Brasil Buenos Aires
25.12.1925 Argentina 2-2 Brasil Buenos Aires
30.01.1937 Argentina 1-0 Brasil Buenos Aires
01.02.1937 Argentina 2-0 Brasil Buenos Aires
18.01.1942 Argentina 2-1 Brasil Montevideo
14.02.1945 Argentina 3-1 Brasil Santiago
10.02.1946 Argentina 2-0 Brasil Buenos Aires
05.02.1956 Brasil 1-0 Argentina Montevideo
03.04.1957 Argentina 3-0 Brasil Lima
04.04.1959 Argentina 1-1 Brasil Buenos Aires
22.11.1959 Argentina 4-1 Brasil Guayaquil
24.03.1963 Argentina 3-0 Brasil Cochabamba
06.08.1975 Brasil 2-1 Argentina Belo Horizonte
16.08.1975 Argentina 0-1 Brasil Rosario
23.08.1979 Argentina 2-2 Brasil Buenos Aires
24.08.1983 Argentina 1-0 Brasil Buenos Aires
14.09.1983 Brasil 0-0 Argentina Rio De Janeiro
12.07.1989 Brasil 2-0 Argentina Rio De Janeiro
17.07.1991 Brasil 2-3 Argentina Asuncion
27.06.1993 Brasil 5-6 Argentina Quito*
*adu penalti

(foto: pinterest)

Share:

Copa America 1995 - Uruguay Mempertaruhkan Segalanya

Apa ambisi duabelas negara yang tampil di Piala Amerika 1995? Macam-macam. Jadi juara? Sah saja kalau yang mengatakan atau menginginkannya itu Uruguay, Brasil, atau Argentina. Yang lain? Tahu dirilah. Sebab empat negara yang paling dijagokan ke semifinal adalah tuan rumah Uruguay, juara bertahan Argentina, tim favorit Brasil, dan kuda hitam Kolombia. Skenario ini selain berdasarkan utak-atik dari undian grup, juga berasal dari kualitas dan kekuatan masing-masing tim. Tapi tahukah Anda bahwa tuan rumah tengah mempertaruhkan segalanya di situ?
Copa America 1995 - Uruguay Mempertaruhkan Segalanya
Estadio Centenario di Montevideo akan menjadi pusat pertaruhan reputasi Uruguay.
Uruguay, yang menjadi tuan rumah ketujuh kalinya, jelas berambisi paling besar. Dalam beberapa tahun terakhir, negeri mini ini semakin tergencet oleh keperkasaan Argentina dan Brasil, serta kekuatan baru Kolombia. Piala Dunia 1994 lalu jelas menyakitkan hati sebab dunia melupakan Uruguay dan memuja Kolombia. La Celeste gagal lolos ke AS, sementara Kolombia - walau tersingkir tragis - namun sanggup mencuri perhatian dunia, terutama lewat aksi kiper Rene Higuita, kapten elegen Carlos Valderrama, dan tentu saja, simpati untuk terbunuhnya Andreas Escobar oleh mafia kokain Kolombia.

Problem Uruguay juga ada di urusan internal. Klub-klub divisi satu banyak terancam bangkrut akibat kalah bersaing mendapatkan sponsor dan hak siar. Hanya klub Nacional dan Penarol yang masih stabil bertahan. Akibatnya banyak pemain berbakat yang harus melupakan mimpinya menjadi bintang. Dampak lebih panjang kentara pada gagalnya klub-klub Uruguay menjuarai Piala Libertadores sejak 1988!

"Hanya dengan menjadi juara Copa America yang bisa mengobati luka ini, tiada lain," kata kapten tim sekaligus superstar-nya yang semakin menua, Enzo Francescoli, 33 tahun. Maka wajar jika pelatih Hector Nunez terpaksa memanggil seluruh pemain terbaik Uruguay yang bermain di Eropa. Sebut saja Daniel Fonseca (Roma), Ruben Sosa dan Jose Herrera (Cagliari) serta Gustavo Poyet (Real Zaragoza), yang tak lain untuk mengejahwantahkan proyek membangun citra baru ini.

Terancam Rugi
Copa America 1995 - Uruguay Mempertaruhkan Segalanya
Aksi AFU (PSSI-nya Uruguay) ini pun didukung pemerintah. Dana sebesar US$ 21,5 juta atau sekitar Rp 45 miliar, telah dikucurkan untuk membiayai segala infrastruktur yang berhubungan dengan pagelaran impian ini. Sekitar Rp 26 miliar di antaranya habis hanya untuk membangun stadion baru di Maldonado.

Imbalan paling setimpal untuk pengeluaran besar ini tidak lain adalah dengan menjadi kampiun. Hal kedua yang diincar AFU adalah berusaha keras mengembalikan uang negara lewat penjualan tiket, iklan, wisatawan, dan hak siar televisi. Sekedar informasi, Chile saja berhasil menggandeng Traffic, sebuah stasiun TV Brasil sebagai saluran resmi kejuaraan, dengan imbalan dana senilai Rp 3,75 miliar sewaktu menggelar Copa America 1991. Begitu juga Ekuador yang sukses menjual hak siar kepada Gammavision sebesar Rp 6,3 miliar untuk tayangan Piala Amerika 1993.

Bagaimana dengan Uruguay kali ini? Sialnya terdapat berbagai kendala yang dihadapi panitia untuk mengeruk keuntungan lebih besar. Salah satunya masalah transportasi. Tidak adanya bandara yang memadai serta jalur kereta api modern akan memaksa turis menggunakan jalan darat yang membosankan, terutama jika ingin ke Paysandu dan Rivera. Untungnya negara Uruguay itu terbilang mini, bahkan paling mini di jajaran konfederasi sepak bola Amerika Latin dengan luas 176.215 km2 atau tidak begitu jauh dengan propinsi Kalimantan Tengah di Indonesia, di luar Suriname (163.821 km2) dan Guyana Prancis (83.534 km2).

Padahal tim-tim Kolombia, Brasil, Argentina, dan AS akan memainkan pertandingan di kedua kota tersebut. Siapa pun tahu, mereka inilah pemilik suporter yang banyak dan heboh. Rugilah Uruguay kalau mereka sampai urung datang atau katakanlah terhambat menikmati perjalanan sepak bolanya. Namun terlepas dari itu semua, tampaknya Uruguay tak terlalu mempermasalahkan itu. Baginya dengan menjadi juara Piala Amerika 1995 saja sudah mengobati dan melupakan semua permasalahan yang asa, sekaligus sebagai obat kerinduan kekeringan prestasi dan kejayaan masa lalu. 

Ini sangat jelas, mengingat hanya dengan sepak bola sajalah, nama dan reputasi negara yang punya lagu kebangsaan Libertad o Muerte (merdeka atau mati) ini bisa dikenal dan terkenal ke seluruh dunia. Di satu sisi, hal ini berarti membuat tekanan atau beban lebih berat buat Enzo Francescoli dkk. Uruguay sudah sangat beruntung bila di semifinal hanya menghadapi Kolombia atau Meksiko sesuai skenario awal. Jangan sampai justru Argentina atau Brasil. Maka dari itu, mereka harus selalu ingat tujuan, serta waspada di setiap laga yang akan dijalani sejak di penyisihan grup.

SKUAD LENGKAP URUGUAY

Kiper: Fernando Alvez, Claudio Arbiza, Oscar Ferro. Belakang: Oscar Aguirregaray, Eber Moas, Jose Herrera, Edgardo Adinolfi, Gustavo Mendez, Tabare Silva, Diego Lopez. Tengah: Alvaro Gutierrez, Pablo Bengoechea, Ruben Da Silva, Marcelo Saralegui, Diego Dorta, Nelson Abeijon. Depan: Daniel Fonseca, Ruben Sosa, Enzo Francescoli, Gustavo Poyet, Sergio Martinez, Marcelo Otero.

(foto: wikiwand/ebay)


Share:

Copa America 1995: Berebut Gengsi, Prestasi dan Transaksi

Mulai 5 Juli nanti, palingkanlah perhatian Anda ke Uruguay. Di sanalah Copa America alias Piala Amerika 1995 digelar. Satu tujuan diburu bersama: menggapai kekuasaan sepak bola se-Benua Amerika.


Copa America 1995: Berebut Gengsi, Prestasi dan Transaksi
Diego Simeone, Fernando Redondo, dan Gabriel Batistuta kala merenggut Copa America 1993 di Ekuador.
Siapa yang tak kenal Uruguay di blantika sepak bola? Negara berpopulasi tiga juta jiwa itu adalah salah satu dari enam kekuatan dunia yang pernah menjuarai Piala Dunia, dan kekuatan utama (The Big Three) di samping Argentina dan Brasil di kawasan Amerika Selatan. Sebagai tuan rumah, misi khusus yang akan diemban oleh Daniel Fonseca dkk, tidaklah enteng. Mereka harus mengembalikan pamor yang telah lama hilang. "Piala Amerika adalah target saya yang utama," tutur pelatih Hector Nunez ketika timnya ujicoba ke Eropa, awal 1995.

Negara yang bernama asli Republica Oriental del Uruguay ini sudah delapan tahun absen jadi juara, terakhir 1987, plus menderita aib besar: gagal tampil di Piala Dunia 1994 lantaran disingkirkan Brasil dan Bolivia di penyisihan. Akibat itulah, Asociacion Uruguay de Futbol (AUF) atau PSSI-nya Uruguay, bertekad memperbaiki citra negaranya. Bukan saja di kawasan selatan Amerika tapi juga di dunia.

Kendala Brasil

Kejuaraan kali ini tampaknya makin seru. Apalagi salah satu tim favorit Brasil, tengah bagus-bagusnya berkat tempaan pelatih kawakan Mario Zagalo. Mereka juga belum pernah kalah sejak menjadi juara, pas setahun lalu. Peluang mereka amat besar untuk merebut gelar kelima Piala Amerika. Siapa lawan paling berat? "Argentina! Tim ini selalu menyulitkan kami di arena internasional," kata Zagalo setelah timnya sukses merebut Piala Umbro di Inggris, dua pekan lalu.

Argentina, seperti ditegaskan pelatihnya, Daniel Passarella, akan menjadikan Piala Amerika 1995 sebagai sasaran utama selain lolos ke Piala Dunia di Prancis, tiga tahun mendatang. "Target saya kala memegang tim ini hanya dua. Piala Amerika 1995 dan Piala Dunia 1998," kilah Passarella sesudah Argentina kalah dari Denmark di final Piala Interkontinental, Januari 1995.

Sementara dua wakil zona Concacaf yang ikut bergabung sejak 1993, Amerika Serikat dan Meksiko, juga punya misi khusus. AS, satu-satunya tim berciri Eropa yang berpartisipasi, ingin mmbuktikan bahwa mereka mampu bersaing dengan sepak bola Latin. Tim tangguh macam Meksiko dan Kolombia kini pun harus menerima kenyataan karena kalah bersaing dengan Alexi Lalas dkk. Hasil Piala AS, yang baru saja usai, bisa dijadikan bukti. Bahkan, AS mampu mengalahkan Uruguay 1-0, April lalu dalam partai persahabatan. Jadi, jangan coba-coba remehkan AS.

Jalan Ke Eropa

Lepas dari itu, ketiga tim di atas itulah yang mewakili negara-negara lapis kedua. Harap diingat, Meksiko adalah runner-up Copa America dua tahun lalu yang kalah 1-2 dari Argentina di final. Belakangan, negeri Sombrero ini kian meningkat grafiknya sejak terkena hukuman FIFA 1992. Yang perlu diperhatikan juga adalah Kolombia. Masuknya lagi playmaker Carlos Valderrama dan kiper eksentrik Jose Rene Higuita, cukup mendongkrak ketangguhan mereka. Belum lagi Chile dengan pentolannya, Ivan Zamorano, yang baru saja sukses mengantar Real Madrid menjuarai Liga Spanyol.

Piala Amerika kali ini juga semakin menarik karena dua negara tetangga yang tahun lalu terlibat perang sungguhan, Ekuador dan Peru, dimasukkan ke dalam satu grup. Akankah mereka bersitegang lagi gara-gara Piala Amerika 1995? Entahlah. Yang pasti selusin tim yang tampil itu, akan berperang di lapangan hijau membela kehormatan negara masing-masing. Dalam tradisinya, Piala Amerika dikenal unik dan penuh misteri. Brasil boleh saja menjadi terbesar di dunia dengan menggondol empat kali juara Piala Dunia. Tapi di sini, di Piala Amerika, mereka tidak ada apa-apanya. Yang terbesar justru Argentina dan Uruguay.

Lalu bagaimana keuntungan buat para pemain sendiri? Sejarah akan berulang. Tim pencari bakat klub-klub Eropa pasti sudah menyiapkan kesehatan matanya. Malahan sebelum kejuaraan dimulai, dua pemain Argentina misalnya, striker Sebastian Rambert dan bek kanan Javier Zanetti, hampir pasti dicaplok klub top Italia, Internazionale Milano, yang telah mengadakan transaksi transfer dengan klub mereka, Independiente dan Banfield.

Ya, inilah intisari sesungguhnya Piala Amerika. Selain saling mengejar prestasi, mempertaruhkan gengsi atau mempertahankan reputasi negara masing-masing, juga sebagai jalan kesuksesan seorang pemain menuju ke tanah Eropa, kiblat sepak bola profesional sesungguhnya.

(foto: istimewa)

Share:

Copa America 1995: Skenario Tuan Rumah Menuju Final

Di kawasan Amerika Latin, mereka dikenal sebagai The Big Three. Di dunia apalagi, mereka adalah tim-tim kaliber kakap, para jawara dunia. Jadi wajarlah jika mereka, lagi-lagi, dijagokan bakal merebut Piala Amerika 1995. Nominasi pertama jatuh pada Argentina, juara bertahan 1991 dan 1993. Kini tim Tango disarati oleh pemain muda yang mayoritas diambil dari klub lokal. Di bawah tangan dingin pelatih Daniel Passarella, tim baru ini mampu mempertahankan reputasi Argentina.

Sejak dibentuk Passarella, September 1994, usai kehancuran pada Piala Dunia di AS, hingga sekarang mereka tampil tetap konstan plus konsisten. Tak pelak lagi, hal itu karena skuad Tango dicekoki disiplin berat gaya sang mantan kapten juara dunia Argentina 1978 itu. Masuk ke dalam Grup C, di sini Argentina adalah unggulan utama. Artinya mereka dijagokan mengatasi AS, Chile, dan Bolivia. Lantas jika skenarionya mulus, Gabriel Batistuta dkk. kemungkinan akan menghadapi Paraguay, Meksiko, atau Peru di perempatfinal. Ini artinya tiket semifinal sudah di tangan, karena Argentina masih menang kelas dari ketiganya.

Brasil masuk daftar unggulan berikutnya. Tim yang baru saja sukses menjuarai Piala Umbro ini amat diharapkan bertemu di final melawan Argentina, seperti yang terjadi di Piala Dunia Junior di Qatar, April 1995. Tapi kemungkinan hal ini tak terjadi. Mengapa? Simaklah utak-atik di bawah ini.

Akal-Akalan?
Copa America 1995: Skenario Tuan Rumah Menuju Final
Enzo Francescoli, kapten Uruguay, di antara dua pemain Brasil, Aldair Dos Santos dan Carlos Dunga.
Juara dunia ini akan bermain di Grup B bersama Kolombia, Peru, dan Ekuador. Bukan hal yang sulit bagi tim asuhan Mario Zagalo untuk menembus langsung semifinal bahkan final. Sebagai contoh di perempatfinal jika mereka diskenariokan bertemu AS atau Chile, tim Samba ini tetap melaju dan di semifinal bertemu pemenang antara juara Grup C dengan pemenang urutan terbaik dari tiga grup lainnya.

Ya ampun, berarti kemungkinan besar Brasil akan menghadapi Argentina di semifinal! Ini pasti akal-akalan panitia alias kubu tuan rumah. Mungkinkah begitu? Bisa jadi. Yang pasti Uruguay jadi lumayan lenggang kangkung jalannya sampai ke final. Menempati Grup A, mereka di atas kertas akan mengatasi Meksiko, Paraguay, apalagi Venezuela. Di perempatfinal, lawan yang menghadang tak beda jauh dengan apa yang dihadapi Argentina.

Jelas, Uruguay masih bisa mengatasi mereka lewat dukungan luar biasa suporternya yang terkenal fanatik. Yang enak di semifinal, Enzo Francescoli dkk. akan ditantang pemenang antara runner-up Grup A dan B, di mana diprediksi mereka adalah antara Kolombia atau Meksiko. Meski dengan susah payah, dua negara ini tampaknya akan diatasi Uruguay. Dengan begitu La Celeste meluncur ke final. Begitu kira-kira skenarionya. Luar biasa.

(foto: twitter)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini